01777 2200289 4500001002100000005001500021035002000036007000300056008004100059020001800100082000800118084001400126100003600140245009800176250002000274300002500294700003100319700003100350520095600381600001001337264003401347336002101381337003001402338002301432990001601455990001601471INLIS00000000000030020260811100744 a0010-0426000299ta260811 g p ind  a9786237211044 a811 a811 FEB j0 aFebriansyah RamadhanePengarang1 aJatuh cinta harus pintar /cFebriansyah Ramadhan ; penyunting, Andri Fabianto, Dana Sudartoyo acetakan pertama a188 halaman ;c19 cm0 aAndri FabiantoePenyunting0 aDana SudartoyoePenyunting aJatuh cinta itu pakai hati, bukan nalar. Sampai di sini, paham? Karena cinta hanya dapat dirasakan oleh seseorang yang merasakannya. Maka dari itu, terkadang kita yang tak merasakannya bisa ber-statement dengan mudahnya bahwa "cinta itu pembodohan", bucin (budak cinta)-lah istilahnya sekarang. Tapi, itu bukan berarti bahwa dirimu harus mengaburkan sehatnya akal hanya untuk sesuatu yang sudah jelas-jelas tidak mengharapkan kehadiranmu. Bucin-lah untuk seseorang yang memang pantas menerimanya, tuluslah kepada seseorang yang bisa membaca ketulusanmu. Cintai seseorang dengan segalamu, tapi akal tidak boleh hilang. Seringkali dirimu dibutakan oleh yang namanya perasaan. Kalau sudah begitu, siapa lagi yang bisa disalahkan selain dirimu sendiri. Ketika hatimu dibuat jatuh oleh seseorang, ia tidak berkewajiban untuk bertanggung jawab atas rasamu atau sekadar menangkapmu. Hanya "akal" yang membedakan manusia manusia dengan makhluk Tuhan lainnya. 4aPuisi aJakarta :bBhumi Anoma,c2019 2rdacontentateks 2rdamediaatanpa perantara 2rdacarrieravolume aSP000558/19 aRC003871/19